Peristiwa tersebut terjadi karena jalan desa dalam kondisi berlubang, licin, dan rusak berat di sejumlah titik. Saat hujan, jalan semakin sulit dilalui sehingga kendaraan tidak bisa masuk ke wilayah desa.
Kondisi ini memicu kekecewaan warga, terutama kalangan pemuda. Mereka menilai kerusakan jalan tidak sebanding dengan besarnya Dana Desa Montorna yang mencapai lebih dari Rp2 miliar.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Sampai hari ini masih ada jalan poros desa yang tidak bisa dilewati mobil. Kalau ada warga sakit, kami harus memikul bersama-sama,” ujar Atiqurrahman, pemuda Desa Montorna, Sabtu (03/01/2026).
Ia juga mempertanyakan penggunaan Dana Desa yang dinilai belum menyentuh kebutuhan paling mendesak masyarakat. “Dana Desa Montorna cukup besar, lebih dari dua miliar rupiah. Kami curiga penggunaannya ke mana saja, karena jalan poros masih rusak,” tegasnya.
Menurut warga, jalan poros desa merupakan akses utama menuju fasilitas kesehatan, pendidikan, dan jalur ekonomi masyarakat. Namun hingga kini, perbaikan menyeluruh belum terlihat, sehingga warga kerap melakukan gotong royong untuk mengatasi kondisi darurat.
Warga berharap pemerintah desa dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan poros tersebut serta membuka informasi secara transparan terkait penggunaan Dana Desa.
(Fen/M)
0 Komentar