Madura Diperlakukan Seperti Anak Tiri, Diuji Seperti Anak Sendiri

Oleh: Moh Iskil El Fatih
(Putra Daerah Madura Menteri luar negeri BEM KM Uniba Madura)

Ketika Madura disebut, yang kerap muncul di benak banyak orang bukanlah tentang ketangguhan petaninya, bukan pula tentang daya tahan sosial masyarakatnya, melainkan potongan-potongan peristiwa yang terangkat ke permukaan nasional. Berbagai isu pernah datang silih berganti mulai dari konflik sosial, persoalan hukum, hingga dinamika ekonomi lokal yang kemudian membentuk satu wajah Madura di ruang publik.

Wajah yang tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak pernah benar-benar utuh.

Dalam arus informasi yang bergerak cepat, Madura lebih sering hadir sebagai peristiwa, bukan sebagai proses. Ia dilihat dari apa yang tampak, bukan dari apa yang melatarbelakangi. Setiap kejadian menjadi representasi, setiap kasus seolah menjelma menjadi identitas. Dari situlah persepsi dibangun perlahan, berulang, hingga akhirnya mengendap menjadi kesimpulan yang jarang dipertanyakan kembali.

Di titik inilah, tanpa disadari, Madura kerap diperlakukan seperti “anak tiri” diakui keberadaannya, tetapi tidak selalu menjadi prioritas dalam perhatian.

Padahal, sebuah daerah tidak pernah bisa direduksi hanya dari potongan-potongan cerita. Madura bukan sekadar ruang kejadian, melainkan ruang kehidupan yang memiliki sejarah panjang, dinamika sosial yang kompleks, serta kekuatan masyarakat yang kerap luput dari sorotan.

Ada kerja keras yang tidak selalu diberitakan.
Ada ketahanan yang tidak selalu ditampilkan.
Ada harapan yang tidak selalu mendapat ruang.

Namun yang lebih sering muncul justru sebaliknya.

Dalam imajinasi publik yang terus terbentuk, Madura bahkan kerap diposisikan secara simbolik seolah berada di “urutan kedua” setelah Zamora de Hidalgo dalam hal citra kriminalitas global. Sebuah perbandingan yang tentu tidak sepenuhnya adil, namun cukup menggambarkan bagaimana stigma bekerja: menguat melalui pengulangan, dan bertahan karena jarang diluruskan.

Di balik itu semua, ada realitas lain yang jauh lebih dalam yang tidak selalu masuk dalam ruang pemberitaan.

Perhatian publik belakangan ini kembali mengarah ke Madura, menyusul pemanggilan H. Khoirul Umam atau yang dikenal sebagai Haji Her oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun yang menjadi penting bukan hanya proses hukumnya, melainkan respons sosial yang mengiringinya.

Ribuan petani hadir menyambutnya.

Sebuah pemandangan yang tidak lahir dari ruang kosong, dan tidak bisa dibaca secara sederhana.

Bagi sebagian masyarakat, Haji Her bukan sekadar individu, melainkan representasi dari keberpihakan yang mereka rasakan selama ini. Di tengah fluktuasi harga tembakau yang kerap tidak menentu, kehadirannya dianggap memberi kepastian, memberi ruang bertahan, bahkan menjadi sandaran ketika sistem yang lebih besar belum sepenuhnya hadir menjawab kebutuhan mereka.

Fenomena ini menunjukkan adanya relasi yang lebih dalam antara masyarakat dan aktor lokal relasi yang tidak dibangun oleh wacana, tetapi oleh pengalaman nyata.

Ekonom Amartya Sen pernah menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan, melainkan tentang kemampuan manusia untuk hidup secara layak. Dalam konteks Madura, hal ini terasa nyata. Karena bagi petani, hidup layak bukan tentang angka statistik, melainkan tentang harga yang adil, akses pasar yang terbuka, dan keberlangsungan hidup yang terjaga.

Di titik ini, Madura tidak sedang berbicara melalui retorika. Ia berbicara melalui realitas.

Filsuf Hannah Arendt mengingatkan bahwa memahami berarti melihat secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Apa yang terjadi di Madura hari ini menuntut cara pandang seperti itu cara pandang yang tidak tergesa menyimpulkan, tetapi berani memahami.

Situasi ini sekaligus menjadi cermin bagi semua pihak.

Bahwa negara tidak cukup hadir hanya dalam bentuk kewenangan, tetapi juga harus dirasakan dalam bentuk keadilan.

Bahwa penegakan hukum tidak cukup tegas, tetapi juga harus mampu menjaga kepercayaan.

Bahwa pembangunan tidak cukup tumbuh, tetapi juga harus menjangkau hingga ke akar.

Sementara itu, masyarakat Madura tetap berdir
dengan segala keterbatasan yang tidak mereka pilih sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar