Sarjana Ngopi dan Mata Tembus Pandang

Mansur bukan pegawai kantor, bukan pula pengusaha besar. Pekerjaannya sederhana dan konsisten: tiap hari ngopi. Pagi ngopi, siang nambah kopi, sore masih ngopi. Warung kopi di ujung gang sudah seperti kantor resminya. Kursi kayu itu saksi hidup betapa seriusnya Mansur menjalani profesi tidak tertulisnya sebagai penikmat kopi penuh waktu.

Di sela asap rokok dan bunyi sendok beradu dengan gelas, Mansur sering melamun. Ia memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Dari tukang becak sampai pejabat kelurahan, semuanya singgah. Dari situlah keinginannya muncul—keinginan yang terdengar mustahil: Mansur ingin punya mata tembus pandang.

“Enak ya kalau bisa lihat isi kepala orang,” gumamnya sambil menyeruput kopi hitam kental.

Suatu sore, setelah gelas ketiga, Mansur membuka ponselnya. Dengan wajah serius tapi mata agak sayu karena kafein, ia mengetik pertanyaan ke ChatGPP:
“Bang, gimana caranya biar saya punya mata tembus pandang?”

Jawabannya muncul cepat, tapi tidak seperti yang Mansur bayangkan. Tidak ada ilmu kebal, tidak ada wirid, apalagi ramuan kopi sakti.

“Mata tembus pandang tidak ada. Tapi kebiasaan ngopi kamu itu sudah langkah awal.”

Mansur terkejut. Ia membaca lanjut.

ChatGPP menjelaskan bahwa orang yang sering ngopi sambil diam sebenarnya sedang belajar mengamati. Duduk lama, melihat orang bicara, mendengar tanpa ikut campur, membaca ekspresi—itu semua adalah latihan “penglihatan dalam”. Kopi hanyalah mediumnya.
“Kalau kamu mau lihat lebih dalam,” tulis ChatGPP,
“kurangi bicara, perbanyak dengar. Jangan cuma pahami rasa kopi, pahami juga rasa hidup orang lain.”

Sejak hari itu, ngopi Mansur terasa berbeda. Ia tetap di warung yang sama, kopi yang sama, tapi cara melihatnya berubah. Ia tahu mana tawa yang tulus dan mana yang dipaksakan. Ia bisa menebak siapa yang sedang punya masalah hanya dari cara mengaduk kopi.

Mansur akhirnya sadar:
mata tembus pandang itu bukan soal menembus benda, tapi menembus kebiasaan menilai orang secara dangkal.
Ia tersenyum sambil mengangkat gelasnya.

“Berarti selama ini,” katanya pelan,
“kopi adalah guruku.”

Dan Mansur pun tetap bekerja seperti biasa—tiap hari ngopi—tapi kini dengan penglihatan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.


(Fen)

Posting Komentar

0 Komentar